Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita

Si Parasit Lajang Seks Sketsa Cerita Jika perkawinan ibarat pasar orang orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain

  • Title: Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita
  • Author: Ayu Utami
  • ISBN: 9789799778420
  • Page: 164
  • Format: Paperback
  • Jika perkawinan ibarat pasar, orang orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.

    One thought on “Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita”

    1. sekali lagi, ayu utami terjebak dengan kekuatan sekaligus kelemahannya: ketrampilannya berbahasa -atau kengototannya?- hal ini membuat ayu kebablasan, lupa mengolah pikiran-pikiran besar yang ada di buku ini. hanya terasa sensasional-nya. anomali-nya. cuma greget di tidak gentarnya ayu menulis sesuatu yang bedarnikahan itu pikiran besar. dunia yang puitis. penuh ambigusitas. penyatuan tubuh dalam dunia rekaan peristiwa. tubuh yang bahagia dan tubuh yang tak bahagia. melebihi dari sekedar teks da [...]

    2. Kawan,pernahkah kamu tiba-tiba tertarik secara seksual dengan orang yang telah lama menjadi teman? Lalu, berpikir untuk ciuman bahkan tidur dengannya suatu hari untuk bertemu lagi esoknya seolah tak pernah terjadi apa-apa? (hal.102)Membaca kumpulan esai Ayu Utami ini, saya serasa ngobrol dengan seorang kenalan baru yang mendukung pendapat dan sikap saya tentang perkawinan, seks, agama, gender, kehidupan sosial, sastraDan saya ingin segera menjadikan kenalan baru itu sebagai sahabat sehati.Saat s [...]

    3. Saya teringat seorang teman. Dia pria, sudah menikah, dan sudah punya pacar lagi. Si pacar mau bersetubuh dengan dia tetapi dia hanya mau jika mereka menikah. Pacar itu jadi istri keduanya. Saya bilang, "Kenapa tidak berzinah saja?" Ia jawab, "Nanti Tuhan menangis." Saya katakan lagi, "Kenapa kamu memilih menyakiti istrimu, pihak yang lemah, ketimbang menyakiti Tuhan, yang sudah begitu kuat?"-Hlm. 177- Semua tulisan disini membuat saya jadi pendengar, saya sulit diam di dunia nyata namun saya bi [...]

    4. Ini buku ketiga milik Ayu utami yang saya bacaentah kenapa, saya tidak pernah suka dan menyetujui dengan apa yang dia tulis. Meski ini bku ketiga, bukan berarti saya menyukai tulisannya monoton. Selalu bercerita tentang Sex, perempuan, kebebasan badaniah dll Menurut saya, Ayu Utami seperti 'salah mengerti' dengan definisi "Feminisme". Tapi, memang nyatanya, sebagian besar perempuan di Indonesia memang "salah mengartikan" arti dari feminisme.Dan ayu utami menunjukkan kesalah mengertiannya itu den [...]

    5. Si Parasit Mashokis“Sebagai korban kapitalisme, saya bukan orang yang serta merta membenci kapitalisme dengan mengidentikkannya dengan hegemoni Barat dan patriarkal. Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi: sebuah sistem yang di sana publik diperhitungkan…”(Ayu Utami, ‘Barbie, Barbie, Barbie’)Saya mendapati buku itu di malam pertama tarawih. Seperti kebanyakan mahasiswa rantau yang berumah tak terlalu jauh, saya pulang untuk munggahan di rumah orang tua. B [...]

    6. Aku suka tulisan Ayu Utami. Banyak juga temanku yang tidak suka. Kebanyakan malah laki-laki. Aku curiga, jangan-jangan mereka menjadi merasa bodoh karena Ayu banyak menuliskan dominasi perempuan sebagai tokohnya. Eh, yang sangat mendominasi di Saman, sih. Beberapa orang yang banyak membaca itu tidak suka tulisan Ayu di sini karena dianggap terlalu vulgar. Menurut aku tingkat vulgarnya biasa-biasa aja, sih. Yang dituliskan kejujuran, namun tidak genit. Ia mengutarakan apa yang ada di kepalanya, d [...]

    7. Terlepas dari sependapat atau tidak saya dengan pikiran-pikiran Ayu Utami, tapi saya akui buku ini memang bagus. Buku ini berisi kritik budaya yang dikemas sederhana, dominan dalam bentuk pragmatis dan melahirkan humor yang unik (karena tidak semua bisa menikmatinya).Saya tidak kaget ketika begitu banyak kosakata vulgar muncul. Salah satu dosen favorit saya bilang bahwa Ayu Utami adalah golongan Sastrawan Madzab Selangkangan (SMS). Jadi, memang tiap kata yang dipilihnya pasti sesuai dengan yang [...]

    8. Saya benar-benar terhibur dengan buku ini. Tak gampang bagi saya untuk memberi rating 5 pada sebuah buku, tapi buku ini sungguh bagus sampai saya selalu bawa kemanapun agar bisa curi-curi membacanya.Buku ini bercerita tentang pikiran-pikiran seorang Ayu Utami, yang berpusat pada banyak hal: ketidak-inginan untuk menikah. Satu inti cerita yang bercabang pada banyak cerita, banyak teori, banyak opini.Saya merasa enjoy membaca buku ini. Maknanya dalam sekali, tapi membacanya seringan baca cerpen di [...]

    9. Pada usia dua puluhan Ayu Utami memutuskan bahwa menikah itu bukanlah pilihannya. Saya pada usia dua puluhan (tepatnya pada tanggal 13 Maret tempo lalu) juga memutuskan sesuatu yang penting (bukan tidak menikah ya, kalau itu ya jelas saya mau-banget) yakni saya memilih untuk tetap menjadi staf yang gak penting seperti ini sampai tua, maksud saya sampai pensiun. Sekilas info, saya satu korps dengan alm. ayahnya Ayu Utami. Saya tidak akan membahas kenapa Ayu Utami memilih tidak menikah sampai unda [...]

    10. Kenapa 2 bintang?Apa bagusnya?Pemikiran-pemikiran Ayu Utami, saya mengakui, emang kritis, masuk akal, kadang mind blowing. Dan beliau percaya dan memegang teguh pemikirannya. Buat saya yang lemah, ga punya ketegasan, gampang kepengaruh, dan plin plan begini, sosok wanita kayak Ayu Utami terlihat sangat berani dan kuat.Apa jeleknya? Hmm Selera sih ya. Mungkin buat beberapa orang, alesan keenggasukaan saya sama buku ini justru dibilang alasan kenapa buku ini bagus. Apalagi saya sadar diri kalo say [...]

    11. kumpulan esai ringan yang enak dibaca, tapi dijamin sekarang ayu utami pastilah punya pandangan yang berbeda karena sudah tak lagi lajang :-) yang menarik adalah petikan kalimat di salah satu esai dalam buku ini, "kalau nanti saya jadi perawan tua, saya tidak mau jadi perempuan yang judes, yang iri melihat perempuan muda yang cantik." :-D Ayu ter-stigmatisasi

    12. buku lama yang diterbitkan ulang ini dibaca oleh perempuan baik lajang maupun yang tidak untuk bisa memahami bahwa, lahir dan mati adalah proses biologis sedangkan pernikahan adalah proses konstruksi sosial. kita, yang memutuskan menikah, ada dalam konstruksi itu. cinta? ya boleh lah :D #referensi

    13. Buku ini sangat ringan untuk dibaca, dan banyak topik yang hanya menyuarakan protes dari seorang AA terhadap konstruksi sosial bernama pernikahan. Sebuah tema yang semestinya bisa lebih digali dan tidak dipersempit dengan pembagian bab ke bab yang terdiri dari 5-6 halaman.

    14. Nothing interesting at all. If not because of my bf, I wouldn't want to even take a glimpse on this book.

    15. Ini buku paling nyeleneh yg pernah gw baca. honestly bukan gaya gw banget. cuman reading buddy-an sama temen SMA dan terpilihlah buku inii buku yang "menceritakan diri sendiri" jarang bisa menarik perhatian gw. termasuk buku ini. bukan kenapa, cuman masalah selera aja. dan jelas, isi review inipun sesuai dengan "selera saya"gw mencoba untuk tetap menikmati dan membaca buku ini, 3 bab terakhir gw hampir menyerah. karena memang isi bukunya tak jauh dari isi dalam celana. mungkin bagi gw hal sepert [...]

    16. buku ini menceritakan tentang keseharian ayu utami. pengalaman dia sebagai penulis, dan sebagai cewek yang cerdik, kritikus, namun juga sangat asyik. dunia tidak sesempit yang dibayangkan. dia bersama teman-temannya mampu menjelajah dunia bagian eropa berkat tulisan-tulisan seperti sastra. karakter buku yang sangat inspiratif untuk mendobrak kekakuan dan kejumudan pemikiran masyarakat yang penakut terhadap kenyataan, atau yang masih trauma dengan masa penjajahan. berpikir positif ke depan dangan [...]

    17. Mungkin karena udah baca dulu buku yang kedua dan ketiganya (Cerita Cinta Enrico dan Pengakuan Eks Parasit Lajang); saya melihat keseluruhan novel ini sangat kurang sarat kisahnya. pendekatan penulisann terlalu menenkankan pandangan penulis dengan dunia sosialnya (terutama buah pikirnya mengenai keengganan menikah).Tentu berbeda dengan kedua novel setelahnya (ini adalah novel trilogi); saya anggap telah banyak mmenyisipkan kisah kehidupan yang tentu secara emosional lebih mengundang pembaca untu [...]

    18. Bukunya lucu kalau dibaca santai, gak boleh terperangkap dengan norma-norma sosial yang ada, gak boleh dibentrokkan dengan pikiran kita sendiri. Benar-benar harus mengosongkan pendapat, maka yang tampak adalah kelucuannya sekaligus mengingatkan pada pertanyaan-pertanyaan lugu kita sendiri yang pernah tercetus namun tampaknya 'naif' sehingga sering kali kita abaikan atau kita lupakan, bahkan kita marahi otak kita karena pertanyaan seperti itu muncul. Pertanyaan naif itu muncul di dalam buku ini s [...]

    19. Sukaaaa pake sekali!!!!! 💞💞💞Ibarat isi hati dan pikiran lagi "dibaca" oleh si saman dan pasca penerawangan dituangkanlah semuanya itu dalam novel "Si Parasit Lajang".Ctrl+C lalu Ctrl+V. Sesimpel itu! Kalo katanya Om Carlos Zafón, tiap buku itu ada jiwanya, jiwa si penulis dan jiwa si pembaca. Nahhh! Aku menemukan jiwa ku dalam buku ini. Sebuah utopia dimana hanya ada aku dan dunia aksiomaku.

    20. Awalnya saya tahu tentang Ayu Utami dari salah satu kawan semasa kuliah yg menjadikan trilogi novel ini menjadi kajian tugas akhirnya. Setelah selesai membaca novel ini pun tanpa disadari saya sepaham dengan Ayu Utami, dan novel ini tidak hanya mengajak saya untuk merenungkan tentang emansipasi dan persamaan gender tetapi juga bagaimana kontruksi sosial yang selama ini tumbuh di masyarakat menjadi alat untuk mengatur kehidupan seseorang tanpa disadari oleh dirinya sendiri

    21. Brilliant and courageous. Contains ways to counter your older relatives when they ask you: "Should you getting married now?" or "Don't say you're NOT getting married, but you're NOT YET getting married," in a clever way. I should've read this book first rather than the translated, bland version of Ayu Utami's Saman, or else my first impression to her works will be so much different than it was. Looking forward to her Pengakuan Eks Parasit Lajang.

    22. I think it's the best masterpiece from Ayu Utami. How I love when she bring urban problem, feminism issue and unusual type of love story to this book. And yes, I have that kind of love-hate prespective when I read it, sort of guilty pleasure between heart and mind

    23. Sebenarnya 3,5 tapi saya bulatkan ke atas karena tulisan-tulisan A dalam buku ini telah mengajarkan pada saya bagaimana berpikir kritis dan out of the box, sekaligus rasional dan filosofis.Saya tidak ingin menghakimi atau mempermasalahkan apakah Ayu Utami salah memahami feminisme, maupun tentang femisnisme itu sendiri, karena saya memang belum paham sepenuhnya seperti apa hakiki feminisme. Menurut saya, tidaklah bijaksana jika seorang pembaca menilai sebuah buku berdasarkan ketidakpahamannya, ap [...]

    24. Dari buku-buku AU (Ayu Utami) yang pernah saya baca, sumprit ini tulisannya yg bisa saya baca sambil makan kwaci dan minum susu, bahkan sambil ngeden di toilet. Buku Bilangan Fu, misalnya, seperti mengharuskan saya untuk hanya duduk dan membaca. Artinya, saya butuh konsen untuk membaca. Tidak dapat dilakukan sambil makan kwaci dan minum susu, apalagi ngeden di toilet. Begitu juga Larung.Banyak yang bilang dalam buku ini AU terlalu ngotot mempertahankan feminisme-nya dia sehingga ia salah kaprah [...]

    25. Tak bisa diungkapkan dengan sebuah plot, tapi "Si Parasit Lajang" tak ayal menelanjangi setiap pemikiran tabu dari para masyarakat urbanis. Sebagai A, Ayu Utami--seorang katolik yang gemar mengkritik--tak ubahnya menyelipkan cercahan pikiran ke dalam lembaran kertas. Kadang lucu, kadang satir, tapi memang lebih banyak satir dan mencibir. Feminis, mungkin bisa jadi, tapi terkadang apatis. Seperti khalayak mungkin tak sepenuhnya tahu bagaimana pangkal dan hilir dari keberadaan film biru, sebagaima [...]

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *