Tirai Menurun

Tirai Menurun Disusun seperti adegan adegan pertunjukan wayang orang Tirai Menurun menyuguhkan babak demi babak kehidupan empat tokohnya Kedasih Kintel Sumirat dan Wardoyo Pemaparan dimulai ketika Republik Indonesi

  • Title: Tirai Menurun
  • Author: Nh. Dini
  • ISBN: 9789795118497
  • Page: 340
  • Format: Paperback
  • Disusun seperti adegan adegan pertunjukan wayang orang Tirai Menurun menyuguhkan babak demi babak kehidupan empat tokohnya Kedasih Kintel Sumirat dan Wardoyo Pemaparan dimulai ketika Republik Indonesia Serikat baru kembali menjadi negara kesatuan Arus pendatang memasuki Semarang dari segala penjuru Berasal dari empat desa tokoh tokoh kisah ini bertemu di kota PadDisusun seperti adegan adegan pertunjukan wayang orang Tirai Menurun menyuguhkan babak demi babak kehidupan empat tokohnya Kedasih Kintel Sumirat dan Wardoyo Pemaparan dimulai ketika Republik Indonesia Serikat baru kembali menjadi negara kesatuan Arus pendatang memasuki Semarang dari segala penjuru Berasal dari empat desa tokoh tokoh kisah ini bertemu di kota Pada siang hari mereka hidup menuruti jalan yang digariskan nasib sebagai rakyat jelata yang papa, dibebani selaksa kebutuhan tak terpenuhi Di waktu malam, bermandikan sinar listrik dan pantulannya yang gemerlapan pada ribuan perada serta manik manik, mereka menjelma menjadi puteri dan pangeran kerajaan yang cantik dan tampan, resi atau pertapa yang bijak berilmu tinggi, raja agung adi kuasa, bahkan sebagai dewa dewi atau binatang gaib yang tak terbatas kesaktiannya Mereka hidup dalam kungkungan dua dunia nyata dan impian Tetapi itulah dunia yang mereka pilih dengan kerelaan yang tulus Sang dalang berhak mengatur sempat menancapkan gunungan di tengah tengah layar.Tancep kayon.

    One thought on “Tirai Menurun”

    1. Membaca buku ini rasanya adem ayem, kayak nonton wayang. Konflik-konflik yang ada dan "klimaks" (kalaupun ada) tidak terasa menggebu-gebu atau memacu adrenalin. Santai. Tapi terenyuh, membaca bagaimana nasib para lakon di dunia anak wayang. Saya jadi jatuh hati pada mereka. Sayang, penulis mengakhiri cerita di saat yang sebenarnya bisa lebih menarik lagi kalau dilanjutkan tentang perjuangan masing-masing tokoh yang tertinggal. Lucu juga mengetahui bagaimana NH Dini gemar sekali mematikan banyak [...]

    2. Ini karya Nh. Dini pertama yang saya baca. Ternyata isinya sangat sastra sampai kadang-kadang saya masih kesulitan dengan bahasanya. Menceritakan empat tokoh utama yang awalnya tak saling mengenal tapi akhirnya bertemu di sebuah panggung pewayangan Kridopangangarso. Empat orang itu adalah Kedasih, Kintel, Sumirat, dan Wardoyo.Kedasih punya sifat ceria, terbuka, dan cerewet. Hidupnya cukup bahagia dengan orang tua yang berkecukupan dan bisa membelikannya barang yang diinginkan. Nantinya ia bakal [...]

    3. Kehidupan anak wayang. Sungguh kehidupan yang dari dulu ingin sekali saya sentuh dan saya cicipi entah dari melihat, membaca atau merasakan sendiri. Ya, sama seperti yang digamblangkan jelas oleh buku ini bahwa kebudayaan sudah semakin lama meluntur, tidak lagi digemari orang banyak. Hal yang kebarat-baratan atau serba impor lebih disenangi. Sama seperti Sumirat dan Kedasih, saya pun terbentur dengan apa kata orang dan bagaimana masa depan jika menggeluti diri dalam dunia ledek, penari ataupun b [...]

    4. Baca buku ini serasa nonton pertunjukkan wayang orang, tidak hanya pas pentasnya lengkap juga dengan kisah dibalik layar dari para pelakonnya. 4 tokoh utamanya: Kadasih, Kintel, Sumirat dan Wardoyo. Ke-empatnya disatukan dalam paguyuban wayang orang yang bernama Kripdopangarso. Kadasih dan Sumirat, gadis remaja dan teman akrab, awalnya mereka hanya sebagai penari latar, waktu terus berlalu dan membentuk mereka menjadi Sripanggung, konflik mulai terjadi ketika Kadasih merasa kalah saing dengan Su [...]

    5. Buku yang sangat sesuai realita kehidupan. Kata demi kata mengalir begitu saja, membuat kita bisa memahami keempat karakter yang digambarkan bergantian di tiap bab, bahkan saya yang pecinta happy ending tetap harus mengangkat topi untuk N.H Dini karena telah menciptakan karya lekat suasana jawa diikuti dengan nilai kebudayaannya.

    6. Terpesona. Nh. Dini tetap menunjukan kemampuannya sebagai salah satu penulis terkemuka di negeri ini. Penggambaran kehidupan anak wayang yang mempesona, jalinan hubungan antar manusia yang sarat makna, ditutup oleh akhir yang miris namun realistis menggambarkan tantangan kearifan lokal yang hampir tergilas laju perkembangan zaman. Sungguh, terpikat di tiap lembarannya

    7. This book is epic! Nh dini ketika smp sudah membuat cerpen dan salah satu cerpennya mendapat perhatian dari H.B Jassin, well, she just born with it? Kalimat dibuku ini mengalun dan sangat nikmat. Ini buku pertama yang saya miliki dari sang penulis, dengan kepastian mutlak saya akan mencari karya lain beliau.

    8. Seperti karya NH Dini lain, unsur jawa selalu kental terasa, apalagi di buku ini. Bagaimana kerasnya kehidupan di kota dipersonifikasikan dalam bentuk wayang hingga tirai menurun.Saya banyak belajar tentang wayang orang di buku ini. Layak baca :)

    9. Bis kasih insight tentang kenapa dunia kesenian tradisional mulai redup sejak masuk tahun 80 an.Gw yang ngga doyan wayang aja tiba-tiba kok jadi merasa kehilangan, harusnya wayang kalo didalemin pasti punya filosofi dan nilai seni yang ngga kalah dari alet

    10. Saya suka novel yg memberi ilmu baru. Semisal saja novel ini yg menceritakan ttg suasana negeri di jaman perubahan kemerdekaan dan kisah di balik layar mengenai wayang orang dan lika likunya. bahasanya juga enak, seperti saat membaca karya2 pujangga lama. hahaha

    11. Hampir sebagian besar sy membaca karya nh dini. Dimulai sejak sma hingga kuliah. Sy menyukai produktivitasx dlm menulis namun tetap menjaga sbg karya sastra yg habat

    12. Saya baru saja belajar kehalusan budi, melatih laku, dan perangai manusia bersama naik-turun nafas paguyuban wayang orang.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *